| Main Menu | |||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
|
| Google Adsense Search |
|---|
|
|
| Login Form |
|---|
| Popular Articles |
|---|
|
Latest Message: 4 weeks, 1 day ago
|
| Chat |
|---|
| Who's Online |
|---|
| We have 13 guests online |
|
No new users as of today. We have 724 registered members. |
|
|
| Dari Kingdom Of Heaven Hingga The Pursuit Of Happyness |
| Written by Hermanto | |||||
| Sunday, 26 October 2008 | |||||
|
Once upon a time, setelah menghabiskan masa cuti dikampung halaman di Sulawesi selatan saya kembali ke Sorong lokasi penempatan bekerja. Perjalanan laut yang ditempuh selama empat hari tiga malam itu terasa begitu lama. Jauh berbeda bila ditempuh dengan perjalanan udara. Mandi yang harus antri, menu makanan yang sangat sederhana, hingga toilet yang buntu merupakan pengalaman yang tidak menyenangkan. Namun bagi kami yang saat itu berdinas di UPT bagian timur Negara Indonesia tercinta sudah merupakan bagian kehidupan yang biasa dijalani. Mengumpulkan uang selama setahun dua tahun, yang dipakai cuti bertemu dengan keluarga dan berkesudahan dengan dompet yang kosong ketika kembali ketempat tugas. Memprihatinkan, tapi sekaligus pelajaran kehidupan yang berharga. Sesudah sholat Isya di musholla kapal Umsini dalam pelayaran dari Makassar menuju Sorong saya meminjam buku dari musholla tersebut yang menceritakan kisah Sultan Shalahuddin Al Ayyubi. Shalahuddin Al Ayyubi adalah pahlawan islam dalam perang salib yang terkenal dan saya begitu mengagumi akhlak dan kisahnya. Ketika perang salib masih berlangsung yang memakan waktu berbulan-bulan bahkan tahunan, pimpinan pasukan salib raja Inggris Richard yang terkenal dengan gelar Richard the Lion Heart terbaring sakit dalam tenda. Suatu malam tiada terduga, Shalahuddin Al Ayyubi masuk kedalam tenda tanpa sepengetahuan penjaga dari pasukan salib. Sultan beserta tabib bermaksud mengobati luka dari raja Inggris tersebut meskipun secara jelas raja Richard adalah musuhnya dalam medan pertempuran. Setelah mengobati luka dan sakit dari raja Richard, Sultan kembali menyelinap keluar tanpa sepengetahuan penjaga. Ini adalah salah satu tindakan yang membuat beliau disegani oleh kawan maupun lawan. Akhlak yang betul-betul membuat saya terkagum-kagum sejak saat itu hingga sekarang ini. Beberapa tahun kemudian ketika saya sudah pindah tugas di Bandara Polonia Medan, Hollywood merilis film dengan judul Kingdom of Heaven. Film yang mengangkat kisah perang salib, namun kubu yang bertempur bukan antara pasukan sultan Shalahuddin Al Ayyubi dengan King Richard The Lion Heart melainkan dengan Balian yang merupakan seorang Baron dari pasukan Salib sebelum kedatangan King Richard. Sebetulnya banyak pelajaran berharga yang disampaikan oleh visualisasi sejarah perang ini kedalam sebuah film meskipun jalur cerita didominasi oleh kehidupan Balian. Namun saat itu pelajaran yang mampu saya tangkap adalah taktik perang yang cemerlang, kesederhanaan seorang pemimpin dan etika perang yang ditunjukkan oleh Sultan Shalahuddin Al Ayyubi dengan tidak melakukan pembantaian penduduk sipil termasuk anak-anak ketika kembali merebut yerussalem. Bahtera Keluarga yang masih berusia muda (Balita : Bahtera Rumah Tangga Lima Tahun) hampir semuanya mengalami hempasan ombak yang silih berganti. Ketahanan atas pengaruh hempasan ombak ini sangat bergantung kepada Nahkoda, ABK dan bahan serta bentuk kapal rumah tangga tersebut. Pengertian Nahkoda dan ABK saya serahkan kepada anda untuk mengartikannya sendiri. Sedangkan untuk bahan dan bentuk kapal terdiri atas komitmen, tujuan dan penerapan ajaran islam dalam membentuk rumah tangga. Diakui atau tidak, kita masih lebih memikirkan duniawi ketimbang ukhrawi dalam tindakan kita termasuk berumah tangga. Sombong dengan segala teori yang memberikan bantahan terhadap ajaran agama. Dan manakala kita terbentur begitu banyak masalah rumah tangga kita baru teringat ternyata hikmah ajaran islam begitu besar dan baru dapat dimengerti dikemudian hari. Segala teori keduniawian yang dulu kita bangga-banggakan hancur luluh dengan sendirinya. Namun penyesalan di akhir tiadalah berguna, kendali atas kapal yang tidak begitu baik dari bahan maupun bentuknya sudah terlanjur dalam genggaman menuntut intuisi, komitmen dan kerjasama antara Nahkoda dan ABK dalam menyelamatkan kapal agar selamat sampai tujuan. Saya sering mengilustrasikan kebersamaan anggota sebuah keluarga dan kemampuan finansialnya dengan sebuah donat yang berbentuk bulat penuh dengan isi selai kacang yang ditaburi irisan kacang almond diatasnya. Seberapa banyak yang kita gigit terhadap donat tersebut maka segitu pula bagian donat yang tersisa. Kalo kita menggigit donat tersebut sepertiga bagian, saya artikan waktu yang tersisa untuk keluarga adalah dua pertiga bagian. Kita menggigitnya dua pertiga bagian maka yang tersisa adalah hanya sepertiga bagian. Kalo kita menggunakan sepertiga waktu efektif kita (tidak termasuk tidur) untuk mencari finansial dalam sehari maka kita menyisakan dua pertiga waktu bagi anggota keluarga. Pilihan berdasarkan skala prioritas ada ditangan kita baik itu posisi kita sebagai seorang suami maupun sebagai seorang istri. Ibarat sebuah donat yang saya ilustrasikan diatas, suami dan istri yang sama-sama bekerja cenderung menyisakan waktu yang sedikit buat sang anak. Memang secara finansial bisa lebih dari keluarga yang hanya satu mesin pencarinya. Tetapi sekali lagi finansial bukanlah segala-segalanya karena ternyata ini hanyalah sekedar alat dan bukan tujuan untuk menjalani kehidupan. Ketika bahtera rumah tangga saya mendapatkan hempasan ombak ujian yang begitu dasyat, rekan-rekan sesama ATC banyak memberikan masukan dan seorang senior menyarankan untuk menonton film The Pursuit Of Happyness. Sungguh kisah kehidupan yang luar biasa bagaimana seorang ayah berjuang untuk mengejar kebahagiaan demi anak laki-laki yang dicintainya. Berpindah tempat untuk menginap mulai dari kontrakan, motel, penampungan tunawisma hingga harus tidur didalam toilet stasiun kereta api pernah dijalani oleh Chris Gardner bersama anaknya Christopher Gardner Jr. Hingga akhirnya dia diterima di sebuah firma pialang saham yang dilewatinya selama enam bulan sebagai karyawan magang tanpa gaji. Pekerjaan ini menghantarkannya sebagai seorang multi jutawan amerika yang masih hidup hingga sekarang ini. Saya terkadang malu sendiri atas kisah kehidupan yang saya jalani dibandingkan dengan kehidupan Chris Gardner. Sering saya tidak meluangkan waktu untuk anak baik itu mengantar dan menjemput anak di sekolah playgroup dan bermain bersama dimana ini tidak dapat dilakukan oleh istri yang bekerja mulai pagi hingga sore. Pengorbanan yang terbilang sangat kecil dibandingkan kehidupan Chris Gardner yang mengantar anak, bekerja tanpa gaji, menjemput anak, berlari menuju penampungan tunawisma, tidur setelah anak tidur, bangun sebelum anak bangun, dipenjara karena tidak membayar pajak dan akhirnya membuahkan hasil kesejahteraan yang melimpah berkat kegigihan dan perjuangan yang luar biasa. Bagi anda yang sekarang diposisikan oleh Allah sebagai seorang ayah, saya menyarankan anda menonton film ini sebagai pelajaran kehidupan. Bahkan, karena begitu besar apresiasi saya terhadap kisah hidup dalam film ini saya membeli kaset DVD nya yang original dan ini adalah pertama kalinya saya lakukan he…. Kehidupan selama di Sorong sebagai seorang pegawai negeri sipil dengan kehidupan yang sederhana memang memberikan banyak pelajaran tetapi ternyata belum cukup juga untuk melewati jenjang-jenjang kehidupan berikutnya. Saya terbiasa dengan pekerjaan rumah tangga yang sebelumnya ketika masih tinggal dengan orang tua tidak biasa saya lakukan. Mencuci, membersihkan sisik ikan, memasak, menyapu, mengepel lantai, menimba air dari sumur dan memindahkannya ke dalam bak mandi sudah merupakan pekerjaan yang dilakukan sehari-hari. Namun itu dikala saya masih sendiri dan tidak hidup dengan orang lain. Manakala saya hidup bersama dengan orang lain, ternyata segala pekerjaan yang dilakukan tersebut masuk dalam hitungan. Kadang saya merasa kesal karena merasa sebagai kepala rumah tangga dengan gaji yang lebih besar mestinya dilayani oleh pasangan dan bukannya sebaliknya melayani pasangan dan mengerjakan pekerjaan rumah. Kelihatannya wajar namun sebetulnya ini menjerumuskan. Hampir empat tahun setelah menonton film Kingdom of Heaven untuk pertama kalinya, saya kembali menonton film tersebut ketika diputar pada sebuah stasiun televisi swasta. Sosok sultan Shalahuddin Al Ayyubi kembali menambah sebuah pelajaran baru. Rasul, sahabat, Shalahuddin Al Ayyubi dan juga tokoh-tokoh islam lainnya merupakan sumber inspirasi yang tiada habis-habisnya sebagaimana layaknya mata air zam-zam yang tiada pernah kering. Shalahuddin merupakan sosok pemimpin yang kelihatannya dia dilayani oleh pengawal dan pembantunya, namun sebetulnya pelayanan yang diberikan olehnya jauh lebih besar dibanding oleh pengawalnya. Inilah yang membuat dia terkenal, nama dan jasanya tetap hidup meskipun jasadnya telah hancur dalam tanah. Bertempur siang malam yang menguras fisik dan mentalnya tidak membuatnya surut dan patah semangat. Ini adalah sebuah pelayanan yang tidak kecil bagi Tuhan dan agamanya. Hasil pelayanannya tidak saja dirasakan oleh pengawal, pembantu dan umat islam di jamannya melainkan juga dirasakan oleh umat islam sesudahnya hingga sekarang ini. Inilah pelajaran yang harus saya petik. Sering kita mengkritik anggota DPR yang meskipun udah bergaji tinggi namun masih saja memeras dan minta uang dikala diminta untuk menyampaikan aspirasi rakyat. Sering kita mengkritik pejabat yang masih saja korup padahal gajinya sudah lebih dari cukup untuk membiayai kehidupannya. Dan juga mengkritik PTO kita yang berkinerja dibawah pelaksana meskipun memiliki kelas jabatan yang tinggi dan berdampak gaji yang lebih besar. Lantas apa bedanya bila kita termasuk saya juga menghitung-hitung alokasi waktu untuk keluarga, merasa gaji lebih tinggi dari pasangan dan minta dilayani seperti raja? Padahal pelayanan balik yang kita berikan cuma seiprit. Jangankan untuk umat atau komunitas yang lebih besar, untuk lingkup keluarga kecil saja kita masih berhitung? Tidak ada apa-apanya. Berarti kita belum siap untuk menggantikan pejabat-pejabat korup tersebut karena kita sama saja dengan mereka. Tidak usah menunggu sampai menduduki jabatan yang setara, dalam lingkup yang kecil saja sudah mentang-mentang sehingga mungkin menurut kacamata Tuhan kita tidak lulus dalam Fit and Proper Test untuk “jabatan” yang lebih tinggi. Rumusnya sederhana : Mau jadi “orang besar”? Belajarlah “dari orang besar”. Wallahu a’lam.
Only registered users can write comments!
Powered by !JoomlaComment 3.22
3.22 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
|||||
| < Prev | Next > |
|---|
| IATCA Clock | |
|---|---|
|
|
| Newsflash |
|---|
| ATCer Banjarmasin |
|---|
![]() |
|
Gunakan Mozilla Firefox untuk tampilan terbaik situs kami Klik image to Download |
| IATCA Calendar |
|---|
| Sponsored Links |
|---|
|
|
| Polling |
|---|